SAMARINDA: Menghafal Al-Qur’an bagi sebagian orang mungkin terasa sebagai perjalanan panjang yang penuh tantangan. Namun bagi Rumaisha Dareen Najuba, siswi kelas XII Kesehatan SMA IT Granada, proses itu justru menjadi jalan yang membentuk ketekunan, kesabaran, sekaligus harapan untuk masa depan.
Gadis kelahiran Tanjung Selor, Kalimantan Utara, 29 Maret 2008 ini memulai kedekatannya dengan Al-Qur’an sejak usia dini. Pendidikan taman kanak-kanak hingga sekolah dasar ia jalani di kampung halamannya.
Ia mengenyam pendidikan di TKIT Qurrota A’yun, kemudian melanjutkan ke SDIT Cendekia Taka.
Di masa sekolah dasar itulah kecintaannya terhadap Al-Qur’an mulai tumbuh.
“Di SD saya mulai menghafal dan berhasil menyelesaikan juz 30,” kenangnya saat ditemui usai Wisuda Al-Qur’an Angkatan VIII SMA IT Granada, Rabu (11/3/2026).
Perjalanan menghafal Al-Qur’an berlanjut ketika ia melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Untuk memperdalam hafalan, Rumaisha memilih belajar di Pondok Rumah Tahfiz Al-Qur’an Ar-Rahmah di Balikpapan. Keputusan tersebut diambil karena ia mengikuti jejak kakaknya yang lebih dulu menimba ilmu di tempat yang sama.
Awalnya, ia tidak pernah membayangkan mampu menghafal hingga 30 juz. Namun seiring berjalannya waktu, proses menghafal justru terasa semakin menyenangkan baginya.
“Ketika mulai menghafal ternyata seru juga. Lama-lama saya berpikir, sepertinya saya mampu menyelesaikan 30 juz,” ujarnya.
Selama tiga tahun menempuh pendidikan di pondok tersebut, ia berhasil menuntaskan hafalan hingga 15 juz. Meski demikian, Rumaisha merasa perjuangannya belum selesai.
“Saya tidak ingin berhenti di tengah jalan. Kalau sudah mulai, saya ingin menyelesaikannya sampai tuntas,” katanya.
Tekad itu terus ia pegang hingga memasuki masa SMA di SMA IT Granada Samarinda. Di sekolah inilah Rumaisha akhirnya berhasil menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an.
Ia bahkan menjadi satu dari dua siswa dari total 111 siswa yang diwisuda pada tahun ini.
Jika dihitung sejak ia mulai serius menghafal pada kelas 6 SD, perjalanan tersebut memakan waktu sekitar tujuh tahun. Sebuah proses panjang yang tentu tidak selalu berjalan mulus.
Rumaisha mengaku pernah menghadapi berbagai tantangan. Salah satu bagian yang paling sulit baginya adalah ketika menghafal juz 16.
“Di juz 16 itu kata-katanya cukup sulit. Kadang juga ada masalah dengan teman di sekolah atau hal lain yang membuat proses menghafal terasa berat,” ungkapnya.
Meski begitu, ia selalu berusaha menguatkan diri dengan keyakinan bahwa setiap kesulitan akan disertai kemudahan.
Ia pun mengakui pernah berada di titik ragu terhadap kemampuannya sendiri.
“Pernah ada masa berpikir, ‘bisa tidak ya?’ Tapi karena keinginan saya sangat besar, akhirnya saya terus mencoba sampai berhasil,” tuturnya.
Untuk menjaga hafalannya tetap kuat, Rumaisha menerapkan cara sederhana namun konsisten. Ia rutin melakukan murajaah setiap hari serta membaca hafalan saat salat.
“Kalau salat sendiri kan lebih leluasa. Biasanya saya membaca hafalan yang sudah dimurajaah sebelumnya,” jelasnya.
Di balik keberhasilannya, ada peran besar orang-orang yang selalu memberikan dukungan.
Orang tua menjadi sumber semangat utama, meskipun ia harus merantau jauh dari rumah sejak SMP.
“Saya sudah jauh dari orang tua sejak SMP. Tapi saya yakin doa orang tua sangat berpengaruh hingga saya bisa menyelesaikan hafalan 30 juz,” katanya.
Selain keluarga, para guru juga memberikan dukungan yang berarti. Salah satunya Ustazah Faras, yang selalu memberi semangat tanpa memberikan tekanan.
“Saya pernah beberapa kali mengeluh kepada beliau, tapi beliau selalu menenangkan. Katanya tidak apa-apa kalau belum sampai, yang penting tetap berusaha. Itu yang membuat saya lebih tenang,” ujarnya.
Bagi Rumaisha, Al-Qur’an bukan sekadar hafalan, tetapi juga pedoman dalam menjalani kehidupan.
“Al-Qur’an adalah petunjuk. Kita tidak bisa menjalani hidup tanpa aturan, dan Al-Qur’an menjadi panduan bagi kita,” tuturnya.
Kini setelah berhasil menuntaskan hafalan 30 juz, ia memiliki impian besar untuk masa depan. Selain berkomitmen menjaga hafalannya agar tetap mutqin, Rumaisha bercita-cita melanjutkan pendidikan di bidang kedokteran.
Ia berencana melanjutkan kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, sekaligus ingin mewujudkan harapan orang tuanya agar ia menjadi seorang dokter.
Sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, kisah perjuangan Rumaisha menjadi inspirasi bagi banyak teman sebayanya.
Ia pun berpesan agar setiap orang tidak terburu-buru dalam meraih tujuan, termasuk dalam menghafal Al-Qur’an.
“Kalau kita punya keinginan dan mau berusaha, insyaAllah bisa tercapai. Yang penting jangan terburu-buru dan tetap konsisten,” pesannya.
Perjalanan tujuh tahun itu akhirnya berbuah manis. Dari Tanjung Selor hingga Samarinda, dari hafalan juz 30 hingga lengkap 30 juz, Rumaisha membuktikan bahwa mimpi besar dapat diraih dengan kesabaran, doa, dan ketekunan.

